Pemasukan GrabTaxi?

GrabTaxi sukses menjadi salah satu nama yang paling banyak dibicarakan oleh tech savvy di Asia Tenggara. Paling tidak, GrabTaxi mungkin merupakan aplikasi terbaik untuk memesan taksi di sejumlah negara.

GrabTaxi
GrabTaxi

Bagi kamu yang sudah pernah menggunakan layanan GrabTaxi, mungkin pernah bertanya-tanya, sampai kapan mereka akan terus berjaya. Startup yang menaungi layanan GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike ini ikut andil dalam pertarungan sengit melawan Uber dan Go-Jek untuk menjadi yang paling unggul, yang berarti menghabiskan banyak uang untuk merayu para calon penumpang dan driver-nya.

Strategi yang mereka gunakan sebenarnya merupakan taktik model lama, yaitu dengan mengumpulkan dana lebih banyak dari kompetitor yang ada, lalu menghabiskannya untuk menarik konsumen. Sekilas, seperti tidak peduli pada keuntungan bisnis.

Harapannya, ketika sengitnya persaingan mulai sedikit mereda dan dana yang ada sudah tak bersisa, startup akan memiliki market share yang luas yang nantinya akan digunakan untuk memperkuat fondasi dan membangun kerajaan bisnis sendiri.

Apakah GrabTaxi berhasil dengan memakai taktik bisnis ini? Dan bagaimana cara mereka menghasilkan uang? Mari kita cari tahu.

Seberapa besar bisnis GrabTaxi?
Singkatnya, sangat besar, khususnya dalam jumlah penggunaan. Dua hal yang dapat disimpulkan :

  • Pertumbuhan perusahaan melesat naik setelah mendapat dukungan pendanaan dari venture capital, meskipun akhir-akhir ini cenderung melambat.
  • Mereka berhasil mendapatkan tujuh pemesanan per detik pada bulan Mei, atau sekitar 18,1 juta pemesanan per bulan.
    Bila melihat pada data di atas, kita bisa mendapatkan perkiraan kasar berapa banyak uang yang mereka bisa dapatkan pada tahun 2015.

Namun sebelum itu, bagaimana mereka menghasilkan uang?
Kepada Tech in Asia, Juru bicara GrabTaxi mengatakan :

Secara umum GrabTaxi memperoleh pendapatan dari para driver melalui beragam layanan, seperti GrabTaxi, GrabCar, dan GrabBike. Driver menyimpan sejumlah uang ke dalam akun GrabTaxi, dan jumlah yang sama terpotong untuk setiap pemesanan yang mereka selesaikan.

Sayangnya, perusahaan ini memilih bungkam saat ditanya mengenai persisnya pendapatan yang mereka peroleh sampai saat ini. Namun dulu, mereka pernah mengungkapkan kalau mereka memperoleh sekitar S$0.30 (sekitar Rp2.700) dari setiap pemesanan di Singapura, ฿25 (sekitar Rp9.590) untuk setiap pemesanan di Thailand, antara 5 sampai 10 persen dari ongkos taksi di Malaysia, serta ₱70 (sekitar Rp20.200) per penumpang di Filipina.

Sekilas memang terdengar rumit. Bahkan aneh kalau ternyata mereka hanya mendapat sedikit bagian dari setiap pemesanan di Singapura dibandingkan negara lainnya. Tapi mari kita telaah lebih lanjut.

Penelusuran ACRA (Accounting and Corporate Regulatory Authority) menunjukkan bahwa saham GrabTaxi, yang mewakili layanan secara keseluruhan, mengumpulkan S$892 ribu(sekitar Rp8,7 miliar) pada tahun 2013. Jumlah tersebut naik menjadi 3,84 juta dolar Singapura (37,5 miliar) di tahun berikutnya.

Bila digabungkan dengan informasi resmi pada jumlah pemesanan layanan yang terjadi perdetiknya, kita akan mendapatkan jumlah perkiraan untuk pendapatan yang diharapkan pada tahun 2015. Besarannya sekitar S$21 juta(sekitar Rp 205 miliar). Dari kumpulan data ini menjelaskan bagaimana jumlah tersebut didapatkan.

(TIA)

Published by

rendra

Sesuatu yang berharga